I'm back..
waaah... tanpa sadar meninggalkan rumah yang pondasinya baru dibangun ya, sudah 8 tahunan blog ini dianggurkan.
mau tulis apa ya?
banyak hal yang mau diceritakan, tapi seolah waktu nya yang belum sempat atau jari ini teralihkan oleh platform sosial media yang sedang trend saat ini.
menyambung dari kisah new born- anak pertama kami, akan ku ceritakan perjuangan membesarkannya secara bertahap ya, mungkin tidak berurutan karena akan ada yang terlupa lalu teringat lagi.
19 Agustus 2015
anak perempuan hadir diantara kami, kami biasa memanggilnya QL.
kami mulai belajar jadi orang tua muda, ya sampai saat inipun kami masih merasa orangtua muda karena menolak tua, hehhehe.
kami menikmati masa bergadang menjaga anak, masa paniknya saat anak sakit juga.
Hari ketiga dari lahirnya anakku demam, aku sempat stres karena asi tak kunjung keluar. saat itu juga masuk musim penghujan, ku kira apakah anakku kurang asupan asi?
ankku mulai terlihat kuning karena sinar matahari selalu tertutup mendung, iapun rewel terus.
aku dan ibu membawanya ke puskesmas untuk berkonsultasi dengan bidan disana, katanya : "namanya juga anak kecil bu pasti nangis paling dia pipis atau pup",
dengan enteng nya dia bicara seperti itu, demamnya mulai naik, feelingku tak enak, perasaan sebagai ibu merasa ada sesuatu meski yang lain bilang jangan berlebihan dan panikan.
Akhirnya suami dan ibuku membawa anak kami kebidan yang buka praktek cukup jauh dari kediaman kami disana bidan menyampaikaan bahwa anak ini demamnya tinggi dan mulai cekung seperti dehidrasi, dan menyarankan ke dr.anak jika kondisinya 2 hari kedepan masih demam.
sayangnya tak sampai waktu ditentukan bidan, besoknya siang hari aku membuat janji ke dr anak untuk malam karen amenunggu suami pulang kerja, tapi pukul 2 siang sudah tidak mendengar suara tangisannya, bergerakpun tidak, tubuhnya mulai dingin, kami mulai panik menghubungi suami dan menyuruh segera ke dokter, untungnya ada dr anak yang sore.
kami janjian bertemu di RS, aku didampingi ibu sambil menangis karena sudh tak bergerak dna dingin selama diperjalanan, entah dia keleahan dan tertidur atau bagaimana, sebentar ku cek nafasnya dna mencari detak jantungnya yang ternyata mulai melemah.
Dan ternyata anak kami sakit, jika saja sejam lagi menunggu mungkin takdir akan berkata lain.
Tali pusarnya mulai berbau, ubun-ubun cekung tandanya kurang cairan, beberapa tubuhnya terlihat kuning, hasil pengecekan dokter anak kami terkena billirubin yang cukup tinggi dan harus dirawat diruangan khusus bayi
alhamdulillah ada yang kosong dan bisa langsung masuk, saat menunggu kamar di siapkan anakku sempat bab dulu , ya Allah pertanda apa ini, masih belum bersuara dna lemas.
suamiku mengurus pendaftaran rawat inap dan tak kunjung datang padahal bayi ini harus segera dapat tindakan.
saat ku hampiri dia sedang duduk didepan sendiri dan terlihat bingung, seperti sedang menunggu sesuatu karena sibuk dengan HP nya
aku tanya ada apa?
kami orang tua muda, masih belajar dan keuangan bekum stabil saat itu meski keduanya bekerja, masih ada cicilan, tabungan tak banyak, ternyata kita membutuhkan DP rumah sakit, tak ada satupun yang bisa membantu saat itu.
Terlepas dari masalah keuangan itu, akhirnya anakku ditangani dan harus di rawat inat selama 3 hari 2 malam tanpa di tunggui orang tuanya.
bayangkan bagaimana rasanya baru berapa hari melahirkan lalu harus di pisahkan dengan kondisi anak sakit hanya bisa di lihat di jam besuk, setiap hari menangis .
asi ku sudah tiga hari belum keluar, anaknya kurang cairan. dokter menyarakan untuk pakai sufor dulu.
pintarnya nak, dia tak mau minum sufor, seperti menanti ASI , saat itu mulai pumping dengan alatnya rumah sakit dan Alhamdulillah keluar, secerca cahaya harapan dengan keajaiban ALLAH.
MasyaAllah pertolonganNya sungguh dekat sejak sata itu ASI ku banyak, selalu memberi afirmasi positif agar terus berlimpah.
sejak kejadian itu ASI ku memenuhi isi kulkas, suami jadi sangat protect terhadap putrinya. aku melihat betapa dia menyayanginya menjaga dan merawat sebaiknya cinta ayah ke putrinya.
Sejak menikah sampai punya anak ini hampir 2 tahun kami hidup bersama orang tua ku, pastinya ada saja perbedaan pendapat yang akhirnya membuat tidak nyaman.
suamiku memberaikan diri mengajak kami mandiri pidah rumah dengan orang tua yang tidak jauh dari rumah karena kami mempertimbangkan untuk menitipkan anak juga.
akmi berdua pekerja di salah satu perusahaan swasta, masih mengatur salary yang didapat karena kami masih harus membantu orang tua dan adik, realita hidup ya yang mungkin dialami oleh beberapa orang juga.
Keputusan mengontrak itu membuat kaget orang tua kami, tapi kami coba menjelaskan. 3 bulan mengontrak belm ada kunjungan dari ibunya suami atau aku, entah kenapa?
mereka pasti punya alasan untuk tidak berjunjung kerumah baru kami.
perdana pisah rumah dari orang tua itu berasa ya, lelahnya repotnya mengurusi sendiri pekerjaan rumah sambil bermain dengan anak.
suatu ketika terjadi peristiwa kurang menyenangkan yang meninggalkan bekas luka bakar di dada anakku.
Hanya ada aku dan anak saat itu, dia lapar dan hendak ku buatkan menu makanannya, naas tak bisa terhindar anakku menarik penggorengan yang berisi minyak dan oleng ek kaki dan bajunya, aku hanya fokus di kakinya yang melepus sehingga berangsur bisa sembuh dan hilang bekasnya, tanpa sadar di dadaya juga terkena da meninggalkan bekas sampai saat ini. maaf in bunda y nak..
saat kejadian ,ayah masih dijalan kekantor sulit dihubungi dan lagi sangat sulit baginya ijin setengah hari biarpun anak sedang sakit.
kadang dunia kerja sekeras itu ya.
Akhirnya baba ngejemput dan ngajak kerumah, sebelumnya ke apotik membeli obat untuk luka anakku, tapi tak kunjung diam dan mulai demam, karena menunggu suami pulang sore, baru kami bawa ke dokter anak untuk mengecek kondisinya.
dari ini, baba bangun rumah untukku menyuruhku pulang dan tinggal saja disini hingga sekarang..
akan ku ceritakan kisah kami di lembaran selanjutnya tentang rumah, keluarga, pendidikan dan perpisahan
Komentar
Posting Komentar